Minggu, 24 Februari 2013

Cerita Hujan

Seiring dengan hujan yang terus-menerus datang di bulan Januari dan intensitasnya semakin meningkat pada bulan Februari, membuatku kembali mengingatmu.

Kau datang bersama hujan, dan kepergianmu pun diiringi oleh hujan.

Jika kedatanganmu diiringi rintik hujan dalam suasana sunyi nan syahdu, maka kepergianmu diiringi rintik hujan kesedihan.

Rintik hujan yang datang dari mataku, begitulah aku biasa menyebutnya.

Kau adalah yang pertama namun bukan yang utama.

You’re the first but not the only one.

Karena setelah bersamamu, aku menemukan cerita yang lain.

Bukan cerita hujan sepertimu, kali ini cerita yang berkebalikan darimu.

Namun, ia menghadirkan sensasi baru yang menyebalkan.

Aku menyebutnya, penyesalan.

Aku tidak terlalu menikmati hujan, tapi bersamamu adalah perkecualian.

Karena apa? Karena aku menemukanmu datang untukku bersama rintik hujan.

Perlu aku ulangi? Ya, aku menemukanmu datang untukku bersama rintik hujan.

Aku masih menyimpan sisa kepingan ceritanya.

Menyimpan sebuah kenangan yang mungkin terlihat usang dan tak berharga bagimu.

Jutaan pixel warna yang akhirnya bergabung jadi satu.

Hanya satu, namun cukup menggambarkan perasaan kita dulu.

Senyuman itu, tatapan itu, dan kehangatan itu.

Semuanya masih terbingkai rapi dan utuh dalam kesatuan jutaan pixel warna.

Dan beberapa saat yang lalu, tak sengaja aku bertemu denganmu lagi.

Kau mau tahu apa yang lebih menyebalkan dari tak sengaja bertemu denganmu lagi?

Aku menemukan bahwa kau datang bersama rintik hujan.

Entah dari Tuhan atau dari hatiku, kau datang bersama rintik hujan.

Aku berdoa pada Tuhan, ini adalah mimpi.

Namun, aku salah.

Pertemuan kita nyata dan kau pun juga nyata.

Senyata rintik hujan yang menerpa tubuhku.

I don’t want waste my time on you, but I do.

Terkadang, aku masih sedikit menolehkan pandanganku padamu ketika ada seseorang yang berusaha menggapaiku.

“Ah, dia tidak sepertimu.”

Hal ini membuatku lelah dan muak.

Bagaimana aku masih bisa melihatmu padahal kau sudah berada dalam buku yang berbeda dariku?

Dan yang lebih melelahkan adalah sahabat-sahabatku yang selalu mengatakan bahwa cerita yang aku jalani akan terasa lebih lengkap jika kau kembali datang dan menulis lanjutan kisahnya bersamaku.

Sebenarnya, aku yang menginginkanmu bersamaku atau sahabat-sahabatku yang menyukaimu?

Sebentar lagi, kau akan pergi dan aku akan tetap disini.

Kau akan berjalan menuju dunia yang lebih nyata daripada duniaku.

Perlahan tapi pasti, kita akan mulai belajar melupakan diri kita masing-masing.

Kau yang akan berkelana dalam dunia nyata yang lebih nyata.

Aku yang sementara waktu ini akan menjelajah dalam dunia yang pernah kita diami bersama.

Tapi aku rasa, kata melupakan akan terdengar menyakitkan.

Mungkin akan lebih tepat jika aku mengatakan, mari kita tetap berjalan ke depan tanpa meninggalkan kenangan indah yang pernah dibingkaikan Tuhan untuk kita.

Kau adalah pelajaran yang pernah Tuhan berikan untukku.

Pelajaran pertama mengenai bagaimana menjaga hati hanya untukmu seorang, bukan untuk yang lain.

Dan untuk pelajaran indah itu, aku berterima kasih padamu =]





NB:
Salah satu sahabatku pernah berkata,

“Let past stay at the past, but what if the past come to present or maybe future? What will you do?”

Rabu, 20 Februari 2013

Kamu, Orang Tua dan Panti Jompo

I’m back!




Tulisan ini terinsipirasi dari tayangan Miss Indonesia 2013 sewaktu mereka berkunjung ke panti jompo.

Saya mungkin masih berumur 16 tahun, mungkin buat kalian saya masih terlalu naif dan hijau untuk membicarakan masalah panti jompo. Tapi buat saya, dengan kenaifan saya ini, saya merasa lebih mudah mengekspresikan sesuatu yang saat kita dewasa nanti akan susah kita katakan.

So reader, ada yang tahu apa arti kata ‘panti jompo’? secara harafiah panti jompo adalah tempat untuk mengurus dan merawat orang jompo/orang tua.

Mengurus dan merawat?

Bukankah itu tugas kita sebagai anak? Bukankah saat orang tua memasuki masa senja adalah saat bagi kita setidaknya untuk membalas apa yang telah orang tua berikan terhadap kita?

Buat saya, panti jompo itu seperti simbol tidak langsung tentang “anak yang sudah terlampau sibuk untuk sekedar mengurus dan merawat orang tuanya hingga menitipkan kepengurusan orang tua terhadap orang lain.”

Apa susahnya mengurus dan merawat orang tua yang sudah membawa kita ke dunia ini? Apakah mengurus dan merawat orang tua yang membesarkan kita akan menghabiskan hari-hari kita? Without them, we are nothing. Tanpa adanya keinginan kuat dari mereka untuk membawa kita ke dunia ini, kita adalah fana.

Saya sendiri kadang bingung, mengapa harus ada panti jompo? mengapa harus ada sekumpulan orang yang punya jutaan alasan untuk menitipkan orang tua mereka di panti jompo? Dan yang lebih mengenaskan adalah kebanyakan penghuni panti jompo adalah kaum wanita. Para ibu. Pahlawan yang membawa kita kemanapun selama 9 bulan 10 hari.
Saya tidak tahu, siapa sebenarnya yang salah dalam sistem ini. Anak yang tidak tahu cara untuk membalas budi atau orang tua yang lelah dengan anaknya sehingga lebih memilih berada di panti jompo bersama teman seperjuangan daripada berada di rumah, tempat dimana mereka seharusnya berada.

Tapi, yang saya tahu  adalah bahwa kodrat kita sebagai anak tidak lain dan tidak bukan berbakti kepada orang tua kita. Dan salah satu wujud bakti kita adalah mengurus dan merawat orang tua di masa senja mereka, bukannya sekedar memberi uang, uang dan uang kepada orang tua kita tanpa memberi perhatian sedikitpun. Uang memang bisa memberi kebahagiaan, tapi kebahagiaan sejati adalah berada di dalam sebuah lingkaran hangat yang bernama keluarga. Lagipula, uang bisa habis tapi kasih sayang akan terus ada selama jantung berdetak.

Beberapa jam yang lalu, saya baru saja membaca cerpen. Judulnya, “Going Home” dan Pulanglah Nak! Ibu Merindukanmu.”

Keduanya memiliki benang merah yang sama. Iya, keduanya membicarakan tentang orang tua, khususnya ibu. Bagaimana rasanya kehilangan ibu, bagaimana rasanya bersikap acuh terhadap ibu, bagaimana rasanya kasih sayang ibu dan rasa-rasa yang lainnya benar-benar tergambar jelas dengan bahasa yang sederhana.

Di ‘Going Home’, ada kutipan yang benar-benar menohok buat saya.

Kau tidak akan pernah tahu persis, bagaimana rasanya ketika seseorang berkata, “Ibumu, dia meninggal”. Kalimat itu terdengar seperti sebuah bola besar, yang mencoba masuk ke telingamu, tapi terlalu besar dan perlahan-lahan menghancurkan gendang telingamu untuk memaksa masuk ke dalam, lalu menghancurkan otakmu.

Dan saat saya membaca ‘Pulanglah Nak, Ibu Merindukanmu’ saya menemukan satu kutipan.

Anakku, jika suatu saat, ketika Ibu belum meninggalkan dunia ini, maukah kau pulang sekali saja? Temui ibu. Ibu ingin memelukmu, mencium keningmu. Nak, walaupun ibu sudah tidak ada didunia ini, kau akan tetap menjadi anakku. Bagaimanapun dirimu, kau anakku. Darah dagingku. Selamanya.

Lupakan tentang castnya. Ini bukan tentang cast atau setting latar waktu dan latar tempat. Ini adalah penggambaran sebuah kehilangan.

Bayangkan jika berada di satu situasi dimana kita sedang bekerja. Tiba-tiba ada sebuah telfon dan itu ternyata dari panti jompo tempat dimana kita menitipkan orang tua kita. Dalam percakapan singkat itu, sang penelfon mengatakan “Ibumu, dia telah tiada.”

Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang telah melewatkan detik terakhir dari hidup orang tuanya tanpa berada di samping mereka? Siapa yang kejam? Kita atau orang tua?

Saya tidak akan menyalahkan mereka yang mendirikan panti wreda atau panti jompo. Niat mereka baik, membantu sekumpulan manusia yang memiliki sejuta alasan untuk menitipkan orang tua mereka. Tidak ada yang salah dengan niatan baik.

Buat saya pribadi, saya berharap bahwa saya di masa depan tidak akan melakukan hal konyol dengan menitipkan orang tua saya ke panti jompo atau panti wreda. Saya hanya ingin membalas apa yang ayah dan ibu berikan pada saya dengan mengurus dan merawat mereka di masa senja mereka. Memberikan perhatian yang dulu mereka berikan kepada saya. Menemani orang tua saya sampai mereka menutup mata.

Kalian boleh bilang saya konyol dengan kata-kata saya di atas, tapi buat saya ini adalah prinsip. Hal mendasar yang membuat saya tetap membuka mata bahwa ayah dan ibu saya adalah pahlawan saya. Manusia pilihan yang Tuhan berikan untuk saya, lebih tepatnya Tuhan anugerahkan untuk saya. Karena saya mempunyai satu feeling bahwa dengan kita mengirim orang tua kita ke panti wreda atau panti jompo, sama saja kita memberikan rumah yang kita dapat dengan susah payah kepada orang yang tidak kita kenal.

“Ayah dan Ibumu adalah harta karun terbaik yang Tuhan berikan kepada seorang anak. Semakin kita mencintai mereka, semakin bernilai pula kita di mata Tuhan. =]”



NB:

Rabu, 16 Januari 2013

Mimpi: Tidak Selalu Terwujud, namun Patut Diperjuangkan


Saya kembali!

Sebenernya sih saya udah nulis di bulan Januari ini, tapi berhubung banyak kritikan yang masuk ke saya, saya jadi semangat buat nulis lagi. Karena kritikan dan pujian harus seimbang. Lagipula dunia tulis-menulis itu seperti kita yang sedang naik roller coaster. Ada saat tulisan kita bagus, ada saat tulisan kita biasa aja dan ada saat tulisan kita kurang bagus. Well, setidaknya saya menikmati menulis.

Oke, posting saya kali ini agak formal. Udah kelihatan juga kan dari penggunaan kata ganti “saya” padahal biasanya dominan “aku”. Daripada saya banyak omong, enjoy it please.


Mimpi.

Sebenernya, mimpi itu apa? Apa gunanya punya mimpi? Apa mimpi itu sekedar bunga tidur atau apa?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, mimpi adalah sesuatu yang terlihat atau dialami di tidur; angan-angan. Sedangkan menurut The New Oxford American Dictionary, Dream is a series of thoughts, images, and sensations occuring in a person’s mind during sleep; a state of mind in which someone is or seems to be unaware of their immediate surroundings; a cherished aspiration, ambition, or ideal; an unrealistic or self-deluding fantasy.

Sependek apapun definisi mimpi menurut KBBI dan sepanjang apapun definisi dream menurut The New Oxford American Dictionary, buat saya mimpi adalah sesuatu yang ingin saya raih dan saya wujudkan. Iya, sesimpel itu.

Mimpi itu bukan matematika. Mimpi itu tidak bisa dihitung, dikalkulasi, dikali, dibagi, dikurangi atau di rangkaikan dengan kalimat matematika yang lain. Tapi satu hal, mimpi selalu bisa ditambah. Lagipula, mimpi itu tidak seperti matematika yang mengenal limit. Mimpi itu tidak terbatas. Unlimited. Setiap orang entah bagaimanapun statusnya di masyarakat, tua-muda, pria-wanita, kaya-miskin pasti mereka mempunyai mimpi.

Buat saya, tidak ada mimpi yang terlihat sederhana, kecil, remeh, biasa saja dan lain-lain. Bukan, bukan karena saya tidak menghargai mimpi yang kecil atau yang bagaimana. Tapi buat saya, sekecil, sesederhana, seremeh, sebiasa saja mimpi seseorang, mimpi yang tulus dan dari dalam hati akan selalu membawa impact yang besar terhadap orang tersebut. Belum lagi jika mimpinya menyangkut orang banyak. Jadi buat saya, semua mimpi itu besar dan patut dikejar.

Kita boleh menikmati mimpi kita, kita boleh tenggelam dalam mimpi kita, kita boleh terbuai akan mimpi kita tapi jangan sampai mimpi itu hanya sekedar menjadi sesuatu yang terhenti di bibir. Buat apa mimpi tanpa sebuah usaha keras untuk mewujudkannya? Ibarat sebuah rumah, kita hanya bisa membangun pondasinya saja tanpa bisa membuat rumah itu menjadi utuh dan terlihat indah. Iya, mimpi yang diucapkan tanpa diusahakan adalah omong kosong belaka. Tong kosong berbunyi nyaring.

Tapi, bermimpi tidak selalu menyenangkan dan menghasilkan sesuai yang kita inginkan. Seperti hukum alam yang berlaku, selalu ada Yin bersama Yang. Selalu ada hitam bersama putih. Selalu ada keburukan bersama kebaikan. Dan selalu ada kegagalan bersama keberhasilan. Satu mimpi terwujud, maka akan ada satu mimpi yang layu.

Banyak orang yang memilih mundur dan menghapus mimpinya lebih dahulu daripada berusaha memperjuangkannya. Tidak semua mimpi bisa terwujud, itu pasti. Tapi apa karena alasan yang sudah merupakan hukum alam itu membuat kita kalah sebelum berperang? Mati sebelum tertancap pedang di jantung? Hukum alam selamanya akan menjadi hukum alam kecuali Tuhan yang mengubahnya. Yang perlu kita lakukan adalah berusaha membuat mimpi kita ada dan berwujud.

Saya punya banyak mimpi. Satu waktu pernah sebagian dari mimpi ini saya tulis di bio Twitter. Duta besar, blogger terkenal dan penulis dengan ratusan karya yang berguna. Saya tidak punya niatan pamer, bergaya atau apapun. Saya cuma mau membuat diri saya terus mengingat apa yang saya impikan dan saya harapkan. Membuat mata saya tetap terbuka bahwa mimpi ini ada dan harus saya perjuangkan seterjal apapun jalannya. Mungkin saja mimpi saya tidak terwujud, tapi saya tidak akan menyesal karena saya pernah mencoba memperjuangkannya. Toh, garis kehidupan ini sudah ditentukan oleh Tuhan bukan? Baik buruknya jalan kita sudah diperhitungkan dengan cermat oleh Tuhan.

Saya juga punya satu mimpi yang kadang saya anggap nonsense. Tapi Tuhan saja tidak mengenal kata nonsense bagaimana manusia yang ciptaan-Nya justru begitu percaya pada nonsense?

Mimpi saya adalah saya mau bersekolah di sekolah kedinasan. Karena saya sendiri suka dengan hal-hal berbau kebumian maka pilihan saya jatuh ke Akademi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau AMKG di Jakarta. Saya tahu akademi ini dari tante saya karena tante saya lulusan AMKG. Saya sendiri masih bingung kenapa AMKG? Kenapa bukan IPDN yang lebih klik ke saya apalagi dengan sikap semacam saya ini?

Saya sadar, bahwa saya punya hati dan hati saya memilih bahwa saya setidaknya harus mencoba AMKG. Saya tidak mau bahwa mimpi saya untuk masuk ke AMKG cuma seperti kabut tipis. Datang, membawa sensasi dingin lalu hilang begitu saja. Saya tidak mau mimpi saya mati karena saya goyah dengan diri saya sendiri.

Tapi ada kalanya mimpi saya harus layu. Dulu, saya sempat berniat lanjut bersekolah di Jogja, tepatnya SMA 8 Jogja atau Delayota. Tapi yang namanya kuasa Tuhan manusia bisa apa? Tepat 2 hari sebelum UN, saya masuk rumah sakit karena demam berdarah. It’s suck. Ketika saya sudah membangun mimpi saya, ternyata apa yang saya impikan tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Sekarang, saat saya menulis tulisan ini, saya samasekali tidak pernah menyesal berada di SMANSA KLATEN. Memang disinilah tempat saya. Menjalani 3 tahun masa pelajar putih abu-abu di tempat yang mempertemukan saya dengan kawan-kawan seperjuangan yang begitu luar biasa. Dan untuk hal ini, saya selalu berterima kasih pada Tuhan.

Pada akhirnya, saya banyak belajar bahwa hidup ini perlu keseimbangan. Harus ada kegagalan yang datang sebelum keberhasilan yang bertubi-tubi. Lagipula, bagi saya mimpi itu seperti tanaman. Harus dipupuk dan terkadang dirapikan, karena mimpi yang liar dan tidak terkendali juga tidak baik bagi mereka yang memimpikannya.

One last qoute:

“Salah adalah ketika kita membiarkan mimpi kita menggantung tanpa kita berusaha meraihnya.”

Sabtu, 05 Januari 2013

Lihat Pundakmu, dan Temukan Tanggung Jawabmu


Hallo pals! HAPPY NEW YEAR all! Selamat menikmati tahun 2013 yang masih penuh teka-teki.
Sebelumnya, aku mau bilang makasih buat Prata XVIII a.k.a anak-anak Kapal Selam yang sudah memperbolehkan aku sama Nanda lihat latihan Caraka XIX yang bakalan ikut RAMAKA besok Minggu. Karena tulisan ini ada setelah aku lihat mereka latihan. I owe you guys. Oh iya, buat lomba besok Minggu, DO YOUR BEST AND GOD THE REST #WeAreSmansa

Cao!
Tanggung jawab. Apa sih hal yang melintasi kepala kalian begitu mendengar kata tanggung jawab? Sesuatu yang kita emban? Semacam itu mungkin ya. Sesuatu yang membuat kita selalu sadar kalau kita di dunia ini bukan sekedar santai aja.

Buatku, tanggung jawab itu seolah harapan yang menyatu. Harapan yang membuat kita berusaha keras untuk mewujudkannya. Harapan yang akan mengabur dengan indah ketika telah terselesaikan. Sesuatu yang sepertinya berat, berat banget tapi ringan kalau kita melakoni dengan hati yang ikhlas.

Kalian ingat kan dengan perkataan orang yang bilang di pundak kita ini tersampir tanggung jawab yang besar. Well, aku setuju dengan pandangan seperti itu. Sekarang, coba kalian lihat pundak kalian. Di pundak yang tempatnya ga seberapa dari besar badan kita justru dia yang membawa beban berat. Kenapa engga kepala? Kenapa engga tangan atau bagian tubuh yang lain? Mungkin Tuhan memilih pundak karena disana terdapat dua malaikat yang akan selalu membuat kita ingat apa tanggung jawab kita.

Di pundak kita ini, sekarang ada tanggung jawab sebagai anak dan tanggung jawab sebagai pelajar. Sedangkan ketika kita udah dewasa, tanggung jawab kita akan bertambah seiring berlalunya waktu. Tanggung jawab sebagai kakak, tanggung jawab sebagai ibu, tanggung jawab sebagai ayah, tanggung jawab sebagai kepala keluarga, dan tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga. Sedikit sih kelihatannya tapi justru yang sedikit ini yang membuat kita harus tetap berpijak di bumi.

Tapi diantara itu semua, hal terpenting adalah tanggung jawab kita sebagai manusia. Iya, manusia. Tanggung jawab kita kepada Tuhan yang menciptakan kita, yang memberikan kita nyawa dan yang membuat kita ada di dunia ini. Gimana caranya bertanggung jawab kepada Tuhan? Menurutku ada banyak cara tapi yang paling simpel adalah berusaha sebaik-baiknya kita dalam melakukan segala hal entah yang kecil ataupun yang besar dan ga lupa disertai rasa ikhlas.

Kadang, aku ngerasa tanggung jawab itu berat. Bohong banget kalau aku bilang tanggung jawab itu enteng. Mungkin iya akan terasa enteng kalau kita sungguh-sungguh dalam melakukannya tapi itu juga bukan berarti meremehkannya. Besar kecilnya tanggung jawab ga akan berpengaruh toh pada akhirnya hal itu ada sesuatu yang kita emban untuk kita laksanakan hingga tuntas.

Salah satu contoh dari tanggung jawab menurutku adalah melanjutkan kuliah. Iya, melanjutkan kuliah. Salah satu pertanggungjawaban kita ke orang tua sebagai anak. Bohong lagi deh kalau aku bilang aku belum memikirkan kuliah padahal masih kelas 11 gini. Setidaknya, seorang anak akan berharap apa yang ia pilih akan sama dengan yang orang tua inginkan. Pada kenyataannya, itu bukan hal yang gampang. Syukur-syukur kalau sama, kalau anaknya mau A orang tua B gimana?

Aku juga sadar, dari awal aku adalah seorang pemberontak. Keluarga dari ayah itu pecinta alam sejati dan aku ga ngikutin jejaknya sama sekali. Keluarga dari ibu itu punya trah hukum yang kuat dan aku dengan pedenya bilang aku bakalan masuk hukum sebagai opsi terakhir kalau aku kuliah. Semacam ini bisa dianggap pemberontak kan?

Aku mungkin pemberontak, tapi juga aku gamau membuat tanggung jawabku sebagai anak mengabur begitu aja Cuma karena ga ngikutin jejak keluarga ayah dan ibuku. Akhir-akhir ini orang tua lagi hobi nyuruh aku besok ambil sekolah dengan ikatan dinas. Karena ikatan dinas bakalan setidaknya menjamin ketika kita lulus kuliah bahwa kita punya pekerjaan. Bukan, bukannya aku meremehkan kuliah tanpa ikatan dinas tapi di dunia yang emang udah ganas, panas, dan penuh kelicikan ini berusaha survive bukan hal yang salah kan?

Tapi aku sendiri juga gamau gegabah dengan langsung bilang iya. Emang jaminan, tapi ada juga tuntutan IP yang tiap semesternya segini, penempatan kerja di luar Jawa dan segala pertimbangan yang lain. Apalagi aku masih minat sama kuliah di universitas yang aku pengin. Lagipula masih ada waktu 1 tahun lagi untuk berpikir.

Ada satu advice dari kakak sepupu yang masih aku inget sampai sekarang. Kata dia “Ini kuliah dek, ini tentang gimana jalan kehidupanmu di masa depan. Bukan lagi yang mengkotak-kotakkan anak-anak dalam jurusan lagi. Kuliah itu kawah candradimuka buat kita yang sebentar lagi jadi orang dewasa seutuhnya. Jangan main-main, karena kalau kamu main-main, sama aja kamu bermain dengan kehidupanmu di masa depan.”

Dan selama waktu satu tahun ke depan, aku bakalan berusaha untuk nilai yang lebih baik dan ga lupa memantapkan kemana kaki ini bakalan berjalan. Setidaknya nilai yang baik adalah salah satu tanggung jawab kecil sebagai anak yang selalu bisa dicicil ke orang tua :]

One last quote:
“berat atau ringan, kecil atau besarnya tanggung jawab terngantung dengan siapa ia berkutat. Semakin ikhlas tanggung jawab dijalani, semakin terang garis finish akhir dari tanggung jawab itu.”

Senin, 17 Desember 2012

Surat Untuk Seseorang


Untuk,
Satu dari beberapa malaikat pelindung hadiah dari Tuhan

Hallo ti, gimana kabar uti sekarang? Baik-baik aja kan? Uti masih seperti dulu kan? Kalau aku hitung, udah 7 tahun uti pergi. Udah 7 tahun juga aku, ayah, ibu, adik, akung dan keluarga lainnya ga bersama wujud fisik uti, tapi aku yakin kasih sayang uti selalu melingkupi keluarga ini.

Uti, sekarang aku udah kelas 11. Kelas 2 SMA. Aku udah jadi ABG yang sebentar lagi siap ga siap harus jadi orang dewasa. Adik udah kelas 7. Kelas 1 SMP. Ayah dan ibu juga udah tambah usia, apalagi akung. Akung walaupun udah sepuh masih mandiri uti. Yah, walaupun kadang agak manja. Tapi kata ibu, itu wajar. Orang tua kalau semakin sepuh pasti balik lagi jadi kayak anak kecil, begitu kata ibu.

Uti, aku kangen sama uti. terakhir aku ketemu uti sehari sebelum kepergian uti. waktu itu, aku masih kelas 3 SD, tahun 2005. Uti pergi karena penyakit TBC yang udah lama ada di tubuh uti. waktu itu, aku ga tahu apa itu TBC, yang aku tahu dari dulu uti sering batuk sampai mengguk. Dan setiap lihat uti batuk, aku Cuma bisa diam aja. kalau engga ya bantuin mijet punggung uti biar dahaknya keluar.

I wish I could turn back the time, but I can’t. Aku berharap aku bisa muter waktu supaya aku balik ke jaman uti masih ada. Uti inget ga jaman Silet masih tentang misteri-misteri gitu? Uti-lah orang yang selalu nemenin aku nonton Silet. Aku takut, tapi penasaran. Dan uti adalah orang yang selalu bersedia nemenin aku walaupun pada akhirnya uti aku cuekin. Uti inget ga jaman aku waktu ga sengaja jatuhin barang pecah belah di rumah? Cuma uti satu-satunya orang yang ga marahin aku. Uti yang berhasil meredam kemarahan ayah, ibu dan akung. Uti inget ga jaman aku belajar naik sepeda? Uti yang bakal ngasih hansaplast ke luka yang timbul gara-gara aku ceroboh. Uti harus tahu, sekarang aku ga pernah pakai hansaplast. Bukannya aku benci, tapi hansaplast ngingetin aku ke uti.

Uti, banyak kenangan yang udah kita lewatin bersama. Dari 16 tahun umurku, 9 tahun aku habisin bareng uti. 9 tahun bukan waktu yang sebentar uti. saking lamanya aku ga inget kenangan apa aja yang udah terjadi. Tapi setidaknya, aku merasa atmosfer hangat ala uti selalu hadir kalau aku lagi stres. Dunno why, tapi aku beneran suka dengan atmosfer hangat uti. more than I love my parent’s warmness.

Uti tahukan dari dulu aku maniak komik? Aku nulis surat ini karena baca beberapa kisah dalam komik yang ngingetin aku tentang uti. komiknya? Ada Detective Conan, ada C.M.B, ada Doraemon, sampai yang paling baru Godhand Teru. Mungkin ceritanya fiktif uti, tapi perasaan yang disampaikan komik itu ke aku ga pernah fiktif, selalu nyata.

Uti, jujur aku mau minta maaf. Maaf kalau aku butuh waktu sampai kelas 6 SD untuk menyadari kalau aku benar-benar kehilangan uti. Maaf kalau selama 9 tahun hidup bareng aku uti pernah kecewa sama aku. Maaf kalau aku selalu nakal dan ngglidik. Maaf kalau aku ga berhasil ngasih kenangan terindah buat uti. Maaf aku ga pernah ngasih ucapan selamat ulang tahun ke uti. maaf kalau aku belum berhasil jadi juara seperti keinginan uti,maaf kalau aku jarang ke makam uti dan untuk maaf-maaf lainnya yang mungkin ga akan selesai kalau aku sebutin satu-satu.

Uti, sebenarnya aku masih pengin lihat wujud fisik uti di keluarga ini. Setidaknya, aku berharap uti ada sampai aku menikah kelak. Terlalu berangan-angan ya? Aku Cuma pengin uti tahun ini lho cucu uti yang paling tomboy dan nakal di antara semua cucunya bisa juga punya suami, hehehe.

Tapi kenyataannya uti udah pergi sebelum aku menyelesaikan SD-ku. Aku bisa apa uti? nangis? Aku sadar nangis ga akan ngembaliin uti ke keluarga ini. Menangisi kepergian uti sama halnya ga rela melepaskan uti menuju tempat yang lebih baik dan lebih kekal. Dan aku pun sadar, uti disana pasti akan sedih kalau terus-terusan ditangisi.

Uti, suatu saat nanti aku bakalan nemenin uti lagi tapi di tempat yang jauh lebih baik. Sampai saat itu tiba, aku akan mewujudkan impianku dulu uti. aku bakalan jadi duta besar, blogger terkenal dan penulis ratusan karya. Ga lupa membanggakan dan membahagiakan orang tua dan keluarga besar. Dan aku berharap kalau atmosfer hangat ala uti akan selalu menemani langkahku kemanapun aku melangkah. Sampai saat itu tiba, aku akan terus berjuang uti :’]



Tertanda,
Cucumu yang paling bengal sekeluarga.





P.S:
Aku tahu surat ini mungkin ga akan pernah uti baca, tapi setidaknya inilah salah satu media dimana aku bisa bercerita tentang seberapa kangennya aku sama uti. lagipula, tanpa uti baca, uti juga bisa meraba perasaanku kan? :]

Senin, 10 Desember 2012

12 Tahun yang Harus Kita Nikmati


Hello fellaz, I’m back. Kali ini, aku mau sedikit agak serius. Di tulisan ini, aku bakalan lebih membahas tentang timeline kehidupan kita. Jadi, untuk apa banyak cakap?

12 tahun yang harus kita nikmati. Ada yang tahu ga maksud dari kalimat di depan? Yap, kalimat di depan berarti masa sekolah dimulai dari SD ke SMP dan berakhir di SMA. Kalian pasti mikir kenapa cuma 12 tahun yang harus kita nikmati padahal kita bakalan punya tahun-tahun ke depan yang mungkin lebih awesome dari 12 tahun masa kita sekolah. Calm down, mulai dari sini aku bakalan jelasin mengapa tulisan ini ada.

12 tahun yang harus kita nikmati. 6 tahun masa SD lanjut 3 tahun masa SMP dan berakhir di 3 tahun masa SMA. Ini waktu normal pelajar dalam mengarungi kehidupan berseragam. Perkecualian buat mereka yang memilih kelas akselerasi. Buat mereka bisa aja 11, 10 atau 9 tahun yang harus mereka nikmati. Tapi balik lagi karena aku anak yang secara pasti bakalan menjalani kehidupan berseragam selama 12 tahun jadi aku bakalan memilih angka 12.

12 tahun yang harus kita nikmati. Mungkin buat kalian ini sepele, tapi buatku 12 tahun yang akan atau sudah kita lewati adalah masa-masa dimana kita pertama kali berkenalan dengan kerasnya kehidupan. Belajar bagaimana membuat keputusan, belajar bagaimana memilih jalan yang akan dilalui, belajar bagaimana untuk mencapai sebuah cita-cita tidak hanya cukup diucapkan tapi harus diperjuangkan.

12 tahun yang harus kita nikmati. 6 tahun di masa SD buatku adalah semacam masa orientasi tahap satu untuk menghadapi kerasnya kehidupan. Lingkungan baru, teman baru, guru baru, suasana baru dan hal-hal serba baru yang sebagian dari kita menganggapnya indah dan sebagian dari kita menganggapnya bencana. Kalau ditanya, aku bakalan memilih option pertama dimana 6 tahun masa SD adalah masa yang indah. Sewaktu SD, kita ga harus berurusan dengan cinta, pacar, galau dan fake smile. Cukup berurusan dengan kasih sayang orang tua, keluarga, teman-teman, lingkungan kita dan menyunggingkan sincere smile. Ditambah belajar ilmu-ilmu dasar yang akan terus berkembang seiring berjalannya waktu dan naiknya strata pendidikan.

12 tahun yang harus kita nikmati. 3 tahun di masa SMP adalah masa orientasi tahap dua dimana kita belajar membuat keputusan yang lebih rumit dan saat dimana kita tidak hanya sekedar memimpin diri sendiri tapi juga memimpin orang lain. Saat dimana remaja sudah bersentuhan dengan pacar, cinta dan galau. Maybe it suck, tapi kenyataan adalah hal yang tidak bisa dibantah. Saat-saat dimana fake smile sering disunggingkan. Saat-saat dimana ego adalah musuh terbesar, saat-saat dimana sikap pemberontak mulai terbentuk secara alamiah dan saat-saat dimana orang tua bukannya mengendorkan ikatan mereka tapi justru mengeratkan ikatan mereka.

12 tahun yang harus kita nikmati. 3 tahun di masa SMA adalah masa orientasi tahap terakhir dimana jika kita telah lepas dari masa SMA atau dengan kata lain saat dimana sudah tidak ada seragam yang melekat pada diri kita berarti kita telah dianggap dewasa secara sempurna. Di masa inilah, kepribadian seorang anak manusia akan benar-benar dibentuk dan ditempa. Ibarat sebuah rumah, masa 3 tahun di SMA adalah saat dimana rumah mulai terbentuk dan mulai dipercantik. Dan di masa inilah fake smile hampir kabur dengan sincere smile, saat dimana kelabilan remaja bisa saja merubah situasi dan kondisi lingkungannya, saat dimana mau tidak mau siap tidak siap kita harus sudah menentukan jalan hidup kita sendiri, saat dimana orang tua mulai mengerti kapan saat yang tepat untuk mulai mengendurkan ikatan tanpa melepaskan ikatan mereka, saat dimana kita ditantang untuk memilih ego atau menggunakan akal pikiran dan hati nurani, dan saat dimana momen melepaskan seragam adalah momen paling krusial dan puncak dari 12 tahun yang harus kita nikmati.

12 tahun yang harus kita nikmati. Bohong kalau aku bilang 12 tahun ini ga berkesan, ga hebat, jelek dan lain-lain. 12 tahun ini benar-benar saat yang hebat. Saat dimana aku mencari jati diriku dan mencari sahabat yang bisa aku jadikan pegangan. Saat dimana aku berhadapan dengan ribuan masalah yang harus aku atasi, entah itu sendirian atau bersama-sama.

Aku percaya dengan apa yang kakak sepupuku bilang. He said “Mungkin benar ketika kamu kuliah kamu akan merasa lebih menjadi diri sendiri dimana kamu bisa ke kampus tanpa harus dengan seragam dan sepatu yang ditentukan sekolah. Tanpa peraturan sekolah yang kamu anggap payah dan lainnya. Tapi kamu juga harus percaya, 12 tahun kamu berseragam akan selalu membuat kamu ingin kembali mengulang lagi saat-saat itu.”

Walaupun aku baru menjalani 11 tahun dari 12 tahun yang harus kita nikmati, aku udah ngerasa bahwa kadang aku rindu masa SD dan SMP-ku. Jaman SD yang tiap pulang sekolah main petak umpet, betengan, kaki-kakian entah itu sama kakak kelas atau adik kelas. Jaman dimana kita bisa menertawakan diri sendiri karena kekonyolan yang kita lakuin bareng-bareng. Jaman dimana jalan di koridor kelas dengan pandangan lurus ke depan adalah hal yang ngebuat semua adik kelas segan ke kamu. Itu konyol, tapi percaya deh kalian pasti bakalan kangen stupid moment macam itu.

Masa SMP-ku? Mungkin aku bisa bilang aku mengawali masa SMP tidak dengan mulus. Dengan tempramen yang meledak-ledak, cara ngomong yang terkesan angkuh dan menyepelekan dan kekuranganku yang lainnya ngebuat aku semacam dikucilkan dari pergaulan kelas selama hampir 1 tahun masa kelas 7. Tapi justru saat itulah aku tahu bahwa aku punya sahabat-sahabat yang ga akan aku temuin untuk kedua kalinya. Di titik inilah aku menemukan suatu pembelajaran dimana kadang menjadi diri sendiri tidak selalu membawa kita ke jalan yang baik pada awalnya namun kita akan menemukan orang-orang yang mau memahami bagaimana apa adanya diri kita pada akhirnya.

Kalau diibaratkan semacam timeline twitter, masa SMA adalah account twitter yang aku follow duluan dan bakalan selalu aku kepoin karena tweetnya yang menarik. Iya, di masa inilah kita akan menemukan cakrawala dunia yang jauh berbeda dari masa SD dan SMP. Teman-teman yang lebih mutual, organisasi yang berskala jauh lebih besar dan ga lupa intrik-intrik licik kehidupan yang mulai bertebaran. Pernah dengar pepatah yang bunyinya “masa SMA adalah masa-masa terbaik”? Well, aku percaya dengan kata-kata di atas. Di luar tugas yang menggunung, ulangan yang bejibun, tanggung jawab yang diemban dan ego yang harus diredam, masa SMA adalah masa terbaik dari 12 tahun yang harus kita nikmati. 3 tahun terakhir yang selalu akan membuka mata kita bahwa baik buruknya kehidupan ke depan berada di tangan kita yang melihatnya.

12 tahun yang harus kita nikmati. Pada awalnya aku ga terlalu peduli dengan masa belajar yang cukup lama ini. Hampir ¾ kehidupan kita di masa belasan habis di sekolah. Tapi semakin ke sini, semakin aku berdekatan dengan ambang kelas 12 semakin aku ngerasa 12 tahun yang akan aku lewati adalah waktu yang precious. Kalau aku flashback lagi dan aku bandingkan dengan masa kuliah yang sering kakak kelas ceritain, akan ada perbedaan yang besar banget.

Di masa kuliah nanti, apakah kita bakalan nemuin orang yang dateng pagi-pagi bener Cuma buat nyalin PR temennya? Di masa kuliah nanti, apakah kita bakalan nemuin ulangan yang brutal dengan tanya kanan-kiri? Di masa kuliah nanti, apakah kita bakalan nemuin orang yang setengah nyawanya ndengerin musik pakai earphone dan setengah nyawanya engga lagi di raganya waktu di kelas? Di masa kuliah nanti, apakah kita bakalan nemuin orang-orang yang gitaran sambil nyanyi-nyanyi ga jelas waktu jam kosong? Di masa kuliah nanti, apakah kita bakalan nemuin orang yang hobi banget ngomong-ngomong walaupun gurunya ada di depan kelas? Di masa kuliah nanti, apakah kita bakalan nemuin orang-orang yang mainan wuzz kalau ga ada kerjaan? Dan yang paling krusial adalah.... apakah di masa kuliah nanti kita bakalan nemuin orang-orang yang dihukum guru BK gara-gara pakaian seragam ga lengkap dan semacam ga disetrika?

Aku belum tahu apakah jawaban dari semua pertanyaanku, tapi satu hal yang pasti, aku tahu bahwa pertanyaan terakhir akan terjawab dengan jawaban tidak.

Pada akhirnya, dengan waktu 1,5 tahun yang tersisa aku bakalan sebisa mungkin menikmatinya. Menikmati bagaimana rasanya berseragam khususnya seragam putih abu-abu sebelum akhirnya aku melepas seragamku dan bersiap menjalani kerasnya kehidupan :]

“Bersyukurlah pada Tuhan untuk 12 tahun yang berhasil kita lalui dan 12 tahun yang harus kita nikmati. Karena di luar sana, ada jutaan anak manusia yang tidak mengalami 12 tahun secara utuh atau mungkin malah tidak mengetahui seberapa berharganya 12 tahun itu.”

Sabtu, 10 November 2012

Jangan Salahkan Ayah Ibumu Jika Mereka Protektif Padamu!


Hey readers! I do my comeback :]

Udah lama ya terakhir nulis. Seingetku sih terakhir nulis bulan September. Kalo ga salah di twitter aku juga udah pernah bilang kalo aku bakalan hiatus dalam rangka fokus HUT sekolah. Finally, that was the greatest school anniversary I ever had!^^ tahun ini 2 guest star. Yep! @poconggg + EndahNRhesa. Anyway, mohon maaf kalau tulisanku kali ini agak kaku. Maklum lama ga nulis. Keep support me ^^

Ok balik ke pokok bahasan. Judulnya mungkin emang terkesan basi dengan perkembangan anak muda di jaman sekarang. Tapi seenggaknya aku berharap dengan tulisanku kali ini, kalian bisa sedikit membuka hati dan pikiran kalian kalau ortu itu engga seseram yang kalian anggap. Enjoy it please ^^

Diantara readers semua ada engga sih yang ortunya pelit ijin? Maksudku pelit ijin itu kalian kalau mau pergi kemanapun pasti biasanya ga boleh. Kalaupun boleh pasti ijinnya udah dari lama, pake adu pendapat, bertele-tele dan kerepotan yang lainnya. Am I right?

Hal seperti di atas sebenernya kalau menurutku wajar. Coba sekali aja kalian berpikir kalian adalah orang tua. Pikirin gimana rasanya kalau anak kalian ijin pergi ke luar kota, motoran, malem-malem, tanpa SIM dan engga tau bakalan pulang jam berapa. Orang tua mana sih yang ga khawatir kalo anaknya pergi tanpa pengawasan orang tua? Kalaupun ada, maaf mereka bukan orang tua yang take care sama anaknya.

Merasa terkekang? Kalau kalian tanya hal itu ke aku, aku bakalan jawab jujur iya aku merasa sedikit tidak nyaman dengan kondisi seperti itu. Kondisi dimana aku stuck dengan sekolah, tugas, lingkungan cs dan aku butuh refreshing. Contoh refreshing emang banyak tapi bener kan kalau salah satu dari cara refreshing itu adalah keluar rumah waktu malam minggu?

Aku masih inget kapan pertama kali aku keluar malem yaitu pas jadi panitia Espresso jaman kelas 8. That was my first time. Really really the first time. Pertama kali keluar rumah habis magrib dan pulang jam 11 malam. Buatku, waktu itu bener-bener yang anugerah banget secara ayah & ibuku agak kaku dengan masalah keluar malam. Simpel aja alesannya. Aku cewek, ga sopan berkeliaran pas malem-malem. Well, untuk kata-kata di atas aku setuju banget. Cewek itu gimanapun akan terlihat lebih santun kalau ga keseringan keluar malam kecuali emang untuk hal penting.

“Kenapa sih aku engga kayak temen-temenku yang boleh keluar malem? Kenapa waktuku Cuma aku habisin buat ngadep leptop sedangkan temenku pada main di luar sana?” itu jenis pertanyaan yang sering banget keluar dipikiranku. Pertanyaan sederhana yang memerlukan jawaban kompleks. Dan biasanya jawaban yang kompleks itu berakhir menyebalkan buat kita yang melontarkan pertanyaan seperti itu.

Di hitung dari kelas 8 berarti perlu waktu 3 tahun buatku pulang ke rumah di atas jam 7. Itupun karena persiapan HUT sekolahku yang kebetulan jatuh pas lustrum. Dan dalam masa 3 tahun itu, sedikit banyak aku mulai berpikir lagi tentang apa pentingnya keluar waktu malem minggu. Terbiasa dengan keadaan malam minggu di rumah aja, ngebuat aku lebih banyak berpikir lagi tentang apa itu esensi “malam minggu dan hangout”.

Apa itu esensi “malam minggu dan hangout” buatku? Simpel aja. waktu buat kumpul dengan keluarga. Coba kita flashback dari hari Senin. Hari Senin, hari pertama dalam satu minggu. Udah pasti kita bakalan sibuk dengan urusan sekolah. Selasa-Jumat kita sibuk dengan urusan ikut ekstrakurikuler atau les. Dari 7 hari dalam seminggu, berapa waktu yang kita alokasikan buat orang tua? Buat keluarga di rumah? Buat sejenak bercengkrama dengan keluarga di rumah? Cuma 2 hari. Sabtu dan Minggu.

Coba kalian pikir sekali lagi. Dari 7 hari yang Tuhan kasih buat kita kenapa Cuma 2 hari yang kita sediakan khusus untuk keluarga? Gimana kalau setiap malam minggu dan hari Minggu kita keluar rumah? Dari 7 hari waktu kita engga ada yang sekalipun kita sediain buat orang rumah. Sekarang, siapa sebenernya yang keterlaluan? Kita atau ortu kita?

Aku sadar, I’m not a good child. Aku bukan anak yang baik. Setiap aku ga suka dengan apa yang ayah/ibuku bilang, aku pasti langsung sewot tanpa berpikir kenapa ortu sampai bilang hal seperti itu. Yang paling parah langsung masuk kamar dan main kunci. You can call me Evil if you want. I deserved for that reason. Tapi pada akhirnya aku sadar. Orang tua cuma meminta kita memberi 1 hari dari 7 hari kita untuk mereka. Iya, buat mereka. Untuk mereka mencurahkan kasih sayang mereka ke kita, buah hati dan buah kasih sayang mereka.

Mungkin kita bakalan protes. “Kenapa sih harus hari Sabtu waktu aku mau hangout sama temen-temenku? Kenapa ga lain hari aja?” Satu hal yang pengin aku tanyain ke reader. Kalian tau kan arti “quality time”? waktu yang berkualitas? Iya, orang tua sebenarnya tidak meminta hari apa kita kosong, tapi mereka meminta kita meluangkan waktu untuk sekedar menikmati waktu yang berkualitas dengan keluarga. Kita tidak sedang membicarakan kuantitas, tapi kualitas. Buat ortu kita, kualitas di atas kuantitas. Sebanyak apapun kita berinteraksi dengan keluarga atau orang rumah, kalau waktunya tidak berkualitas semuanya bakalan sama aja. 0 besar. Bohong.

Lagipula, ortu kita ngelakuin hal itu semata-mata karena mereka sayang sama kita. Bukan niat mereka tidak memperbolehkan, mereka cuma meminta kita mempertimbangkan apakah hal yang akan kita lakuin bermanfaat apa engga. Aku yakin, kalau kegiatan yang kalian lakuin itu bermanfaat, orang tua bakalan mendukung penuh kok ^^

Dan sekarang, aku bersyukur karena kebiasaan orang tuaku tidak dengan mudah mengizinkan anaknya keluar malam. Pertama, aku jadi ga terbiasa keluar malam kecuali urusan mendadak dan penting. Kedua, I have more quality time with my family. Ketiga dan yang paling penting, orang tuaku peduli dan sayang sama aku.

Akhirnya sampai juga kita di akhir tulisanku. Dari hal di atas aku sendiri bisa belajar kalau SMA ini aku udah jarang punya quality time sama keluarga. Tapi aku masih bisa ngerasain kalau ayah & ibuku masih perhatian, sayang, peduli dan bertanggung jawab terhadap anaknya. Aku juga berharap orang tua reader sekalian juga perhatian, sayang, peduli dan bertanggung jawab terhadap kalian ^^

One last qoute:
“Jika kau di ibaratkan rumah, maka teman adalah bagian-bagian pelengkap dari rumah, dan orang tua serta keluarga adalah tiang pondasi utama yang berada dalam dirimu. Hargai dan hormati orang tuamu. Sejengkel apapun kamu dengan mereka, kamu tetaplah orang yang mewarisi darah keduanya.”